
OMPAS.com – Beberapa waktu lalu siswa SMA sederajat sudah mengikuti TKA (Tes Kemampuan Akademik). Siswa mengerjakan tiga mata pelajaran (mapel) wajib dan satu mapel pilihan. Mapel wajib TKA yang dikerjakan siswa yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Sedangkan mata pelajaran pilihan meliputi berbagai mata pelajaran lanjutan dan mata pelajaran IPA dan IPS. Hasilnya nilai TKA untuk mapel Matematika jenjang SMA 2025 terbilang buruk. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam pembukaan Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, Rabu (19/11/2025) silam.
“Saya bocorkan di sini walaupun belum taklimat, TKA 2025 yang kita selenggarakan itu matematikanya juga jeblok-blok-blok-blok,” kata Mu’ti dikutip dari Kompas.com, Minggu (23/11/2025).
Abdul Mu’ti menekankan, nilai TKA matematika jenjang SMA yang jelek itu bukan disebabkan karena siswa-siswa SMA sederajat bodoh dalam mengerjakan soal matematika dalam pelaksanaan TKA 2025 beberapa waktu lalu. Penyebab nilai matematika TKA 2025 jeblok Mendikdasmen mengungkapkan beberapa faktor penyebab nilai matematika TKA 2025 jeblok, antara lain. Mulai dari buku yang digunakan untuk belajar. Hinga cara guru mengajarkan tidak membuat siswa ingin terus belajar matematika.
Selain itu juga ada faktor masalah rendahnya numerasi siswa-siswa di Indonesia. “Kemampuan numerasi siswa-siswa di Indonesia masih rendah karena adanya anggapan bahwa Matematika adalah materi yang sulit,” beber Abdul Mu’ti. Oleh karena itu, kini pemerintah tengah menyiapkan agar anak-anak bisa suka dengan pelajaran Sains, Teknik, Teknologi, dan Matematika (STEM). “Jadi STEM Itu buku-buku Science yang Science, Technology, Engineering, and Math itu kita kembangkan dalam buku-buku sains yang mudah, murah dan menyenangkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Abdul Mu’ti juga pernah mengungkap alasan pembelajaran STEM di Indonesia masih dinilai sulit oleh siswa-siswa di Indonesia.Tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga berpikir kritis-logis Menurut Mu’ti, berpengaruh pada terus menurunnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.
Oleh karena itu, pemerintah kini mulai menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional yang membangun budaya numerasi sejak dini dengan cara menyenangkan.


